• (0370) 7844163
  • admin@pkbintb.com
  • Mon - Fri: 9:00 - 17:00
Berdirinya PKBI
PKBI didirikan pada tanggal 23 Desember 1957 di Jakarta, sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Perkumpulan ini berdiri dilandasi kepedulian terhadap keselamatan ibu dan anak. Gagasan ini muncul, karena para pendiri perkumpulan yaitu Dr. R Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) bersama kawan-kawannya pada saat itu (1957) melihat angka kematian ibu dan anak sangat tinggi. Kematian ibu cukup tinggi, pada umumnya karena pendarahan akibat seringnya melahirkan dan kematian anak juga tinggi antara lain karena proses kelahiran bayi yang kurang sehat dari akibat kehamilan yang tidak sehat, kekurangan gizi dan kurangnya perawatan pada masa kehamilan. Untuk merealisasikan cita-cita yang luhur itu maka para pendiri perkumpulan sepakat mendirikan suatu Lembaga Swadaya Masyarakat dengan nama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Kemudian pada tahun 1959 PKBI menjadi anggota Federasi Keluarga Berencana Internasional yaitu IPPF (International Planned Parenthood Federation) yang berkantor pusat di London.
Pendiri PKBI
PKBI meletakkan pengaturan keluarga, penentuan jumlah anak, kapan punya anak, dan seberapa sering punya anak, bukan sebagai tujuan melainkan sebagai strategi dalam menurunkan AKI dan AKB.
Kongres PKBI
Kongres PKBI
Presiden Soekarno pada tahun 1952, para aktivis perempuan di Yogyakarta mendirikan Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK), dan mereka mendirikan klinik layanan KB di Gondolayu. 17 oktober 1968 di bentuk Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) Berdasarkan surat keputusan Menko Kesra No. 36/KPT/X/1968. setelah LKBN berdiri, di ubah menjadi ‘Badan Koordinasi Keuarga Berencana Nasional (BKKBN)’ Berdasarkan keputusan Presiden. Konferensi internasional tahun 1994, tentang pembangunan dan kependudukan mulai berbicara pentingnya kesehatan seksual dan reproduksi, yang menjangkau semua tingkatan umur dan latarbelakang sosial budaya dan masuk dalam agenda-agenda pembangunan.
Mobil Klinik PKBI
PKBI memasuki ragam wacana, misalnya, masuknya perkumpulan dalam dorongan pemerintah melahirkan kebijakan yang mengatur mengenai : HIV/AIDS, KTD, wacana aborsi aman dan tidak aman, dan melakukan berbagai advokasi pembelaan hak-hak kelompok yang dipinggirkan seperti waria, pekerja seks, anak jalanan dengan ragam pertarungan wacananya.
Remaja PKBI
Remaja PKBI

PKBI melakukan berbagai intervensi untuk mewujudkan kemandiriannya, antara lain, dengan selalu menigkatkan kapasitas SDM staf dan relawannya. Membangun jaringan kerja yang melibatkan mitra strategis dalam mewujudkan visi keluarga yang bertanggung jawab. Hingga saat ini PKBI telah hadir pada 27 provinsi di indonesia, yang tersebar pada 193 kab/kota. Namun kantor Daerah PKBI hanya ada di 25 provinsi. Terdapat 193 PKBI cabang, serta 23 Youth Forum. Semua itu digerakkan oleh relawan PKBI berjumlah 4.269 orang. Sebagian besar PKBI Daerah sudah mandiri memiliki kantor, wisma, klinik, youth center dan koperasi
Kongres PKBI

VISI

Pusat Unggulan (Center of Excellence) Pengembangan Program dan Advokasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi yang mandiri pada tahun 2020

MISI

  • Mengembangkan pusat informasi, edukasi dan konseling serta pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi ditekankan pada  pelayanan Keluarga Berencana  yang berkualitas, berbasis hak dan berperspektif jender, melalui peningkatan peran PKBI yang profesional, kredibel,  mandiri dan berkelanjutan.
  • Memberdayakan masyarakat, agar mampu mengambil keputusan terbaik bagi dirinya dan berperilaku bertanggungjawab dalam hal Kesehatan Seksual dan Reproduksi.
  • Mempengaruhi para pengambil kebijakan untuk memberikan dukungan dan komitmen atas terjaminnya pemenuhan hak-hak seksual dan reproduksi

STRATEGI

  • Strategi I:  Mengembangkan model-model dan standar pelayanan kesehatan seksual dan  reproduksi  yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
  • Strategi II:  Memberdayakan masyarakat untuk memperjuangkan  hak seksual dan reproduksi  bagi dirinya dan orang lain.
  • Strategi III:  Mengembangkan Upaya Pencegahan dan Penanggulangan IMS, HIV dan AIDS.
  • Strategi IV:  Melakukan advokasi di semua tingkatan organisasi kepada parapengambil kebijakan untuk menjamin pemenuhan hak-hak dan kesehatan seksual dan reproduksi.
  • Strategi V:  Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan Sumber Daya organisasi.
Struktur Organisasi PKBI

Salah satu kekuatan PKBI adalah bekerja atas dasar kerelawanan (volunteerism) yang pada struktur terwakili melalui relawan pengurus sebagai pengambil kebijakan dan relawan pelaksana program di lapangan. Profesionalisme dari staf dan pelibatan relawan muda di lapangan pada setiap level juga dapat menjamin kelangsungan pelaksanaan nilai dan misi PKBI yang sensitif gender. Secara keseluruhan staf PKBI berjumlah 812 orang yang terdiri dari 109 staf PKBI Pusat dan 703 orang staf PKBI Daerah dan Cabang.      

Copyright 2021 © All rights Reserved. Re-Design by Budi