Keterbukaan Berkomunikasi Mengikis Kuasa Suami terhadap Hak Reproduksiku

Keterbukaan Berkomunikasi Mengikis Kuasa Suami terhadap Hak Reproduksiku

Narasumber : Amanah (Penerima Manfaat Tidak Langsung, Ibu dari anggota Kaukus)

Saat ini usia saya sekitar 45 tahun dan telah dikaruniani 3 orang anak yang semuanya adalah perempuan. Semenjak di Lombok, suami saya tiba-tiba berkeinginan untuk menambah anak dan harus laki-laki. Saat itu, langsung mengarah kepada saya selaku istri dan itu sangat membebaniku. Saat itu, menuruti dan mengikuti kemauan suami adalahi bentuk bakti seorang istri kepadanya. Selama di Lombok, saya dibekali sebuah kios di rumah agar saya bisa tetap di rumah dan menjaga anak-anak. Hanya melalui anak perempuan saya yang paling besar, yang dapat saya harapkan untuk turut aktif mengikuti kegiatan di lingkungan desa. Dialah sumber informasiku dan bersamanya saya dapat berbagi keluh kesah termasuk tuntutan harus memiliki anak laki-laki.

Beberapa waktu lalu, ada kegiatan pengenalan 26 Tanda Bahaya Kehamilan dan Persalinan di rumah ibu kadus, tetangga depan rumah. Tetapi saya tetap tidak bisa ikut karena harus tetap di rumah. Karena dekat, jadi saya dari rumah turut menyimak materi dan diskusi kegiatan tersebut. “ibu hamil pada usia diatas 35 tahun, memiliki risiko kehamilan yang tinggi” kalimat dari ibu bidan ini membuat saya sontak tertegun. Kalimat tersebut terus mengganggu pikiran dan saya merasa sangat takut dan cemas. Saya pun bimbang dalam menentukan sikap antara mengikuti kemauan suami atau mempertaruhkan keselamatan saya. Saat itu, saya dalam keadaan belum haid dan berharap hamil. Saya resah, mulai mencari tahu lebih banyak mengenai risiko kehamilan, baik melalui anak ku hingga ibu-ibu posyandu yang mampir belanja di kios pun saya minta waktunya untuk berbagi pengetahuan pada buku KIA.

Beberapa bulan kemudian, saya menyadari bahwa saya sudah tidak haid hampir 3 bulan lamanya dan bersama suami kami sangat yakin kalau saya hamil. Kemudian, anakku menyarankan agar periksa ke puskesmas untuk lebih pasti. Dengan penuh harap saya pun ke puskesmas untuk memeriksa dan memastikan kondisi saya. Namun, setelah pemeriksaan ternyata hasilnya negatif. Saya tidak hamil. Saya hanya mengalami gangguan menstruasi. Di hadapan bidan, tangis saya pecah. Perasaan tak karuan, saya sangat takut. “Ya Allah, saya sudah pasrah, jika memang hanya sampai disini batas berumah tangga saya,” ucap  saya dalam hati, karena saya tahu dan paham bagaimana suami saya. Dan itu sangat membuat saya takut.

 

“Hasil pemeriksaan ini harus disampaikan dengan baik, tetapi saat ibu sudah tenang. Indah selalu bersama ibu.” kata anakku menenangkan saya. Lalu saya mulai berpikir, saya harus mengabari suami mengenai hasil pemeriksaan ini. Setelah saya merasa benar-benar tenang, saya sampaikan apa adanya dan saat itu suami saya tidak berkomentar apapun. Saya semakin takut dan cemas. saya sudah pasrahkan. Kemudian, selang beberapa waktu, saya terus menghubunginya kembali dan menyampaikan seperti yang dikatakan bidan waktu itu dan risiko hamil pada usia saya saat ini. Dan saya sampaikan pula bahwa gangguan haid yang saya alami karena terlalu stres memikirkan harus punya anak laki-laki, terlebih saat ini usia saya sudah masuk usia lanjut, kesempatan hamilnya pun mungkin kecil dan itu berisiko.

Saya tidak tahu, entah apa yang suamiku pikirkan tentang diri saya. Baru saya sadari bahwa saya tidak menyampaikannya secara langsung tetapi melalui telepon, yang baginya selama ini cukup tidak sopan, terlebih menyampaikan informasi yang cukup serius. Saya semakin pasrah. Tiba-tiba suami menghubungi saya dan menanyakan keadaan saya. “kata temenku, perempuan yang mengalami gangguan haid itu cukup berbahaya. Kamu harus periksa ke dokter. Kita tidak usah pikirkan mau hamil lagi untuk punya anak laki-laki”. Seketika itu saya terdiam sejenak, saya merasa sangat senang dan lepas, saya merasakan sebuah kebahagian yang tidak dapat saya ungkapkan. Beberapa hari setelah itu saya mulai haid kembali. Bagi saya itu perubahan yang sangat berarti dalam hidup saya. Dan sampai saat ini, kami tetap saling terbuka mengenai kesehatan reproduksi kami dan mencoba mempasrahkan diri untuk memiliki anak laki-laki.

Kelompok PKK sebagai Pendukung Jalannya Kaukus

Kelompok PKK sebagai Pendukung Jalannya Kaukus

“Momentum perubahan memang menjadi satu harapan banyak pihak di semua tempat, namun hal tersebut akan menjadi mimpi yang hampa tanpa ada gerakan kesadaran dan partisipasi serta pelibatan perempuan dalam setiap kegiatan. Dan perubahan itu harus dimulai dari akar rumput.”

Begitulah ungkap para anggota kaukus yang juga adalah anggota PKK ini. Pada kepemimpinan kepala desa sebelumnya dan sebelum ada program Power Up ini, PKK Desa Taman Indah tidak aktif meskipun mendapat alokasi dana dari desa. Selain itu, keberadaan dan keterlibatan perempuan di desa hanya melalui PKK saja, itupun terkesan ekslusif dan sedikit monoton.

Pemilihan kepala desa selanjutnya yang juga adalah awal  masuknya Power Up di Desa Taman Indah seolah membawa angin segar bagi kelompok-kelompok perempuan lain yang kemudian bergabung membentuk kaukus perempuan. Kepala desa yang baru sangat memberikan apresiasi serta mendukung penuh  kegiatan kaukus, apalagi dengan ikutnya Ibu Kepala Desa dalam struktur kepengurusan kaukus. Menurutnya, hadirnya kaukus membuat pemahaman tentang desa menjadi bertambah dan  mendorong perempuan untuk berpartisipasi dan berkarya.

PKK, yang hampir semua anggotanya juga adalah anggota kaukus, pun akhirnya rutin melakukan kegitan dari yang sebelumnya mati suri. Jumlah anggota PKK saat ini bertambah menjadi  29 orang yang terdiri dari perempuan di masing-masing dusun. Sejak Power Up intens memberikan informasi melalui pendampingan di desa berdampak positif pada rutinnya PKK melakukan pertemuan, yakni sebanyak 2 kali sebulan. Berbagai macam kegiatan yang dilakukan PKK, diantaranya pelatihan pembuatan pupuk, pembuatan kerajinan dengan kain perca, dan kegiatan-kegiatan lain yang biasanya terinspirasi dari social-social media. Adapun support dari desa berupa anggaran desa yang awalnya untuk PKK sekitar 7 juta dan kini naik menjadi 17 jutaan.

Salah satu anggota kaukus yang juga adalah kepala sekolah SMK Bangun Bangsa juga menerangkan bahwa setelah perempuan-perempuan di desa menjadi anggota kaukus, banyak inovasi pikiran yang dulunya tidak tahu apa itu anggaran pembangunan desa dan lainnya, kini hal tersebut bukan menjadi milik sebagian orang  di lingkup pemerintah desa saja, namun keberadaan kelompok perempuan justru menambah instrument dan kekuatan desa menuju desa yang berkemajuan lewat partisipasi kaukus.

Selain itu juga di tambahkan bahwa sejak Power Up mengenalkan kami banyak informasi berbasis tekhnologi, kami pun bisa bertukar informasi dengan kelompok-kelompok yang ada. Juga mendapatkan informasi dengan mudah seperti misalnya 26 Daya Kelin yang sebelumnya kami tidak pernah tahu sekarang kami jadi tahu dan ingin memberitahu yang lain lewat media social yang kami miliki baik secara pribadi maupun akun kelompok.

Penggerak Perempuan Desa Sepakek

Penggerak Perempuan Desa Sepakek

Narasumber : Isnaini (Ketua Kaukus)

Pada saat Power Up hadir di Desa Sepakek, beliau menganggap hanya kegiatan biasa saja. Seiring berjalannya waktu, dengan berbagai pengetahuan yang didapat dari kegiatan Power Up, beliau merasa sangat terbantukan terutama masalah penganggaran di desa dimana beliau juga merupakan ketua kaukus. Dengan amanah yang diberikan itu, beliau selalu mensupport kegiatan di desa, namun tidak jarang beliau juga mengkritik kebijakan-kebijakan desa yang dianggap tidak sesuai. Kini dengan berbagai ilmu dan pengalaman yang dimiliki melalui kaukus beliau mengajak seluruh perempuan di desa untuk berpartisipasi dan mendukung desa dalam kegiatan apapun.

Sebelum ada Power Up, beliau adalah anggota PKK dan juga KWT di desa. Namun, PKK saat itu tidak ada kegiatan. Saat ini, beliau dikenal sebagai wanita penggerak partisipasi, dalam arti bahwa ia selalu mendorong anggotanya melakukan perubahan. Pada saat Power Up ini berjalan, salah satu anggotanya terpilih sebagai anggota BPD, yang awalnya tidak ada keberanian sedikitpun untuk mengambil peran legislatif di desa, namun beliau terus memberikan dorongan agar keterwakilan perempuan lebih bertaring dalam system pemerintahan. Selain itu juga, pada setiap kegiatan hari besar, meskipun tidak ada dana dari desa, beliau tetap mengajak untuk membuat kegiatan dengan bergontong royong dan urunan baik kaukus maupun masyarakat secara umum.

Beliau juga dikenal sebagai perempuan kritis di era kepemimpinan kades dua periode ini. Saat pemilihan ketua KPM Desa Sepakek lalu, beliau hadir dan heran karena saat itu ketua KPMnya sudah terpilih. Dengan adanya informasi yang didapatkan dari WA GRUP, beliau melihat dan membaca persyaratan menjadi ketua. Ia menilai ada kejanggalan dengan persyaratan tersebut, beliau pun langsung menginterupsi memberikan pendapatnya terkait ketua KPM sesuai dengan persyaratan yang ada. Akhirnya dengan berbagai macam pertimbangan, dilakukan lagi musyawarah ulang untuk pemilihan ketua KPM.

Beliau sosok yang berpikir dulu sebelum bertindak, beliau terus menelurkan gelora semangat pada perempuan di Sepakek bahwa perempuan harus bisa membuktikan dirinya tidak hanya jago berkumpul dengan kata kata, namun bisa dibuktikan dengan karya-karya.

 

Rahmayanti, Seorang Ketua BPD Perempuan

Rahmayanti, Seorang Ketua BPD Perempuan


Narasumber : Rahmayanti (Ketua Kaukus/Ketua BPD/Ketua Kader)
Rahmayanti adalah Ketua Kaukus An-Nisa’ Desa Beraim, beliau juga menjabat sebagai Ketua BPD Desa Beraim dan Ketua Kader Desa Beraim. Sebelum adanya kaukus beliau menjabat sebagai Ketua Kader Desa Deraim selain profesi utamanya yang adalah seorang guru di TK PGRI Beraim. Setelah adanya kaukus, beliau berhasil masuk dalam calon BPD perwakilan perempuan yang ada di Desa Beraim dan terpilih menjadi Sekretaris BPD Desa Beraim, seiring waktu berjalan masyarakat Beraim melihat banyak perubahan yang terjadi baik itu dari kegiatan di desa maupun dari proses PPD. Beliau melakukan pendekatan kepada masyarakat secara umum dan khususnya kepada perempuan di desa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam segala kegiatan di desa. Beliau bersama program Power Up juga mendorong partisipasi perempuan dan mendorong perempuan untuk bisa dan berani bersuara dalam berbagai acara formal di desa.
Hasilnya perempuan lebih aktif untuk ikut terlibat dan perempuan Desa Beraim lebih berani dan kritis dalam menyuarakan hak dan kebutuhannya. Hal ini terlihat dari berbagai acara seperti Musdes dan Musrenbang di Desa. Ibu Rahmayanti juga terus mengawal segala kebutuhan perempuan dalam RKPDes agar bisa masuk dalam RPJMDes. Hasilnya, banyak kebutuhan perempuan yang bisa direalisasikan baik dalam RKPDes maupun APBDes, seperti perlengkapan posyandu, PMT ibu hamil KEK, PMT bayi dan balita, PMT bayi BGM, kelas ibu hamil, dan berbagai bentuk pelatihan seperti pelatihan tata boga, pelatihan tata rias, pelatihan ketak, pelatihan menjahit, dan lain sebagainya, yang biasanya pada tahun-tahun sebelumnya tidak pernah terlaksana.
Pada akhir tahun 2019, Ibu Rahmayanti diangkat menjadi Ketua BPD Desa Beraim. Jabatan ini dipercayakan kepadanya oleh masyarakat Desa Beraim dan anggota BPD yang lain, hal ini dikarenakan beliau dianggap mampu untuk membawa Desa Beraim untuk lebih maju lagi, beliau juga sangat aktif dalam kegiatan di desa maupun di kegiatan level Kecamatan dan Kabupaten. Banyak perubahan yang dirasakan khususnya masyarakat perempuan di Desa Beraim setelah terpilihnya Ibu Rahmayanti sebagai Ketua BPD, perempuan desa merasa ada wakil dari perempuan yang mempunyai posisi jabatan yang penting dalam proses PPD, hal ini bisa menjadi jembatan bagi perempuan untuk bisa terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Dari  Ketidaktahuan  Menjadi Tahu dan Terlibat

Dari Ketidaktahuan Menjadi Tahu dan Terlibat

Narasumber : Yeni Sasmita

Perkenalkan nama saya Yeni Sasmita S.E , saya seorang guru madrasah dan seorang ibu rumah tangga yang sehari hari biasanya bergelut di sekolah dan rumah saja, tidak pernah melakukan aktifitas lain di luar rumah apalagi melakukan hal–hal yang berkaitan dengan masalah perencanaan penganggaran ataupun hal lainnya yang berkaitan dengan  kegiataan desa.

Pada tahun 2016, saya pindah tempat tinggal yang dulunya ikut suami di Desa Beber Kecamatan Batukliang kemudian kembali ke desa asal saya di Dusun Dasan Baru Desa Murbaya Kecamatan Pringgarata karena bercerai. Perceraian tersebut dilatarbelakangi oleh adanya tindak kekerasan baik secara fisik maupun mental dalam Rumah Tangga. Hal itu kemudian membuat saya begitu trauma, terutama bagi anak-anak saya. Saya mulai hidup sebagai seorang single parent dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Sayapun harus berpikir keras untuk bisa mencukupi semua kebutuhan mereka sementara saya hanya mengandalkan gaji sertifikasi yang tidak tentu cairnya.

Dengan latar belakang seperti itu, saya jadi memiliki keinginan kuat untuk memberdayakan dan melindungi kaum perempuan agar tidak tertindas secara lahir dan batin dalam sebuah rumah tangga atau dalam sebuah hubungan  dalam masyarakat secara luas, saya ingin perempuan- perempuan di daerah saya mandiri dan tidak sedikit-dikit mengandalkan suami. Karena menurut saya kaum perempuan juga punya skill dan kemampuan yang tidak kalah hebatnya dengan kaum laki-laki jika mereka diberdayakan.

Keinginan saya ini kemudian sampai ke Ibu Subakyah (Ketua Kaukus saat itu), yang akhirnya mengajak saya untuk ikut pelatihan sensitisasi proses perencanaan di desa.  Kalau tidak salah, Bulan September  tahun 2018 lalu. Dimana pada saaat itu kami diajarkan tentang bagaimana peran perempuan untuk dapat ikut terlibat dalam proses perencanaan penganggaran desa dan mengusulkan program-program yang responsif gender.   Tentu program POWER UP ini sangat sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dan niat saya agar nantinya perempuan bisa lebih berdaya dan mampu memperjuangkan hak dan kebutuhannya.

Sebelumnya saya tidak pernah datang ke kantor desa apalagi sampai terlibat dalam proses perencanaan penganggaran di desa. Tidak ada gambaran sedikitpun tentang alur dana desa dan prosesnya seperti apa. Saya datang ke kantor desa hanya kalau mengurus surat-surat kependudukan atau sejenisnya. Sebulan kemudian, saya ikut pelatihan itu lagi yang sekaligus dibarengi dengan perombakan kepengurusaan kaukus, dan Alhamdulillah saya terpilih sebagai ketua baru menggantikan ketua sebelumnya.

Dari itu saya mulai aktif mengkampanyekan program–program kaukus ke semua elemen masyarakat dan juga Pemdes Murbaya walaupun pada saat itu kaukus masih dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai sebuah kelompok yang mengajarkan hal hal yang dianggap bertentangan dengan ajaran atau norma-norma yang berlaku di masyarakat, terlebih lagi oleh Pemdes Murbaya.  Apalagi kepala desa sebelumnya tidak menerima adanya kaukus ini, karena tidak dianggap lembaga positif yang baik untuk desa.

Namun setelah saya memberikan pemahaman terkait program-program kaukus, akhirnya mereka mau menerima dengan tangan terbuka, apalagi setelah mereka melihat langsung jenis kegiatan kegiatan yang dilakukan kaukus dengan melibatkan semua elemen masyarakat. Alhamdulillah saya sebagai ketua kaukus juga jadi sering diundang dan dilibatkan dalam setiap kegiatan dan musyawarah yang ada di desa yang membuat saya tahu dan paham bagaimana proses perencanaan di desa. Saya pun dipercaya ikut terlibat dalam penyusunan RPJMdes, Tim verifikasi RKPdes dan tim penyusun RKPdes. Tidak hanya itu saja, saya juga dipercaya sebagai Kader Pembangunan Manusia untuk Desa Murbaya saat ini.

Alhamdulillah semuanya berawal dari keterlibatan saya sebagai ketua Kaukus Kartini Murbaya dan semua kegiatan yang pernah dilakukan oleh kaukus yang tidak hanya mengajak dan mengajarkan kita bagaimana cara memberikan pendapat tapi juga membangun mental yang luar biasa untuk perempuan-perempuan Desa Murbaya yang awalnya tidak pernah tahu menjadi tahu sampai terlibat dalam proses perencanaan penganggaran di desa seperti yang saya alami.

Semakin Banyak Suara Kami, Semakin Mungkin Kebutuhan Kami Didengar

Semakin Banyak Suara Kami, Semakin Mungkin Kebutuhan Kami Didengar

Narasumber : Dian Safitri (Ketua Kaukus Desa Praimeke)

Menjadi bagian dari kaukus perempuan dipercaya sebagai ketua, Ibu Dian Safitri seperti mendapat kekuatan baru untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan di desa. Untuk itu, ia semakin gencar mencari  dan memahami informasi mengenai proses perencanaan pembangunan di desa, salah satunya dengan mengakses video edukasi perencanaan pembangunan desa. Termasuk mendekatkan diri ke pemerintah desa untuk mendapatkan informasi pembangunan desa. Ia mempelajari itu agar dapat berkontribusi langsung dalam proses perencanaan pembangunan desa dan menyampaikan aspirasi dan kebutuhan perempuan lainnya.

Dalam kesehariannya, Ibu Dian melalui kaukus membuka ruang diskusi bagi kelompok perempuan di desanya untuk dapat mengetahui kondisi dan kebutuhan perempuan yang ada di desa. Kelompok perempuan seperti PKK, Kader Posyandu, kelompok KWT hingga guru PAUD turut ia jangkau dan libatkan. Hingga ditemukan perhatian yang sama mengenai kelangsungan hidup perempuan dengan status janda di desanya. Mereka melihat, kebutuhan ekonomi untuk menghidupi anak.anaknya perlu mendapatkan ruang dan bekal keterampilan. Karena bagaimana pun akan berdampak pula pada kondisi kesehatan terutama bagi anak nya yang masih bayi/balita. Hal ini terus ia sampaikan dalam kesempatannya mengunjungi pemerintah desa. Bahkan menjembatani masyarakat lain dalam mengakses layanan kependudukan dan lain sebagainya di desa. Sehingga, pemerintah desa semakin familiar dengan keberadaan dan peran Ibu Dian.

Di tahun 2018, Ibu Dian mulai turut terlibat dalam kegiatan-kegiatan di desa hingga proses perencanaan pembangunan di desa. Sebuah kesempatan besar untuk mengupayakan aspirasi perempuan untuk digalakkan masuk sebagai perencanaan pembangunan desa. Tidak lupa pula, ia turut mengajak perempuan lainnya dapat bersama-sama berpartisipasi dalam proses perencanaan pembangunan di desa. ‘semakin banyak perempuan yang terlibat, semakin banyak suara kami dan itu menguatkan kami dalam bersaing untuk pemenuhan kebutuhan kami perempuan,” tegasnya. Baginya, saat ini mereka sudah cukup puas bahwa perempuan mulai dilibatkan dalam proses pembangunan desa.

Melalui kaukus yang merupakan perwakilan dari berbagai kelompok, ia pun berbagi informasi  dan menggali informasi mengenai kondisi dan kebutuhan perempuan. Dan melalui kesempatan ini, Ibu Dian mampu memasukkan usulan kegiatan pemberdayaan perempuan untuk ekonomi bagi kelompok perempuan berstatus janda dengan kegiatan Kelompok Koperasi Usaha Bersama (KUBE) yang masuk ke dalam penganggaran melalui BUMDes. Ia pun merencanakan KUBE ini juga sebagai model koperasi simpan pinjam atau tabungan bersama.

Melihat antusiasme kelompok perempuan, pemerintah desa memperkuat pengelolaan dan peruntukan BUMDes. selain itu juga, terbangun kolaborasi dengan PKK dalam mendorong kelompok KUBE dan masyarakat lainnya sadar akan kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih melalui program Bank Sampah. Kolaborasi ini meluas dengan pelibatan kader Posyandu dalam upaya ketersediaan makanan sehat untuk makanan tambahan bagi bayi balita. Sehingga pengadaan PMT bagi bayi/balita dapat bekerjasama pengadaan melalui KUBE yang mengolah makanan jajanan.

Pada Tahun 2019, pemerintah desa memilih Ibu Dian sebagai anggota Tim Penyusun RKPDes dan mempercayakan posisi Bendahara di BUMDes. Dan hingga saat ini, telah berdiri 3 KUBE dengan produk meliputi bahan pokok, makanan jajanan, dan kerajinan lainnya.