Peningkatan kualitas layanan kesehatan melalui pemanfaatan tekhnologi?

Peningkatan kualitas layanan kesehatan melalui pemanfaatan tekhnologi?

Narasumber : Ibu Dewi Puskesmas Bagu

Pertama kali mengetahui Power Up sejak dilibatkan dalam penyusunan materi mengenai 26 Tanda Baya Kehamilan dan Persalinan untuk dikembangkan berbasis teknologi. Pada saat itu bersama tenaga kesehatan dan perwakilan dinas kesehatan secara bersama-sama menyusun materi tersebut. Hal baru dan menarik bagi saya karena ada media komunikasi, informasi dan edukasi menggunakan teknologi yang berbasis suara. Media ini akan sangat membantu dalam meningkatkan kesadaran ibu hamil maupun perempuan dan keluarga mengenai kesehatan ibu dan anak, terutama untuk perencanaan kehamilan dan persalinan.

 

Saat ini, perubahan yang paling berarti bagi saya dan bidan disini yaitu sudah tidak ada lagi ibu melahirkan di rumah, semuanya sekarang melahirkan di layanan kesehatan. Hal ini terjadi karena tidak terlepas dari peran aktif dari tenaga kesehatan maupun kader posyandu dalam mensosialisasikan mengenai tanda bahaya kehamilan dan persalinan, bahkan sekarang ini kader pun turut serta dalam merujuk dan mendampingi ibu hamil melakukan pemeriksaan. Selain itu, banyak perubahan kami rasakan dari tenaga kesehatan, yang mana perubahan ini berkontribusi pula pada tidak adanya persalinan di rumah.

 

Pertama, setiap desa mengalokasikan anggaran untuk kelas ibu hamil. Kami sangat terbantukan dengan perubahan ini, karena jangkauan ibu hamil kami menjadi lebih banyak. Selain itu, pemerintah desa juga mulai terbuka dengan kami tenaga kesehatan. Pada perencanaan kegiatan kelas ibu hamil menyerahkan kepada kami sehingga untuk standar dan kualitas pelaksanaan kelas ibu hamil merata. Kelas ibu hamil yang kita lakukan itu memerlukan waktu 3 hari berturut-turut dengan materi dari risiko kehamilan, persiapan persalinan hingga teknik atau cara mengedan saat persalinan. Di hari ketiga kegiatan, ibu hamil kita wajibkan untuk hadir bersama suami, agar suami juga paham dan tahu harus berbuat apa.

 

Kedua, pemanfaatan teknologi untuk menyebarluaskan informasi kesehatan Ibu dan Anak. Para bidan desa kami disini, juga pernah dilibatkan dalam pelatihan 26 tanda bahaya kehamilan dan persalinan yang berbasiskan teknologi. Dimana selanjutnya digunakan untuk melatih para kader posyandu di desanya masing-masing. Sehingga penyebaran informasi dan jangkauan penjaringan kami menjadi lebih luas, karena kader juga punya pengetahuan mengenai hal tersebut.

 

Selanjutnya, komitment bersama bidan dan tenaga kesehatan yang berkaitan dengan KIA membentuk WA Group yang melingkupi ibu hamil, kader, bidan, hingga petugas gizi. Selain sebagai wadah pertukaran informasi, media ini juga melatih atau merangsang ibu hamil di dalamnya untuk mulai mengidentifikasi diri sendiri dan mengkonsultasikannya melalui group tersebut. Ibu hamil pun mulai banyak yang mengkonsultasikan keluhannya, melalui group ini tidak harus semua yang bertanya atau konsultasi. Tetapi 1 atau 2 orang yang bertanya informasinya diperoleh juga oleh semua ibu hamil yang ada dalam group tsb. Sehingga, jarang kita temukan keluhan yang sama untuk dikonsultasikan dalam group tsb.

 

Ketiga, pemanfaatan teknologi pun tidak hanya untuk tenaga kesehatan ke masyarakat maupun sebaliknya. Kami sekarang di puskesmas juga sudah memiliki kesepakatan bersama dengan semua bidan desa. Selain melalui WA group, kita juga ada layanan konsultasi melalui telepon hingga video call. Hal ini kita lakukan untuk membantu persalinan, hingga mempercepat proses rujukan sehingga tidak ada lagi kata terlambat untuk merujuk dan mendapat penanganan. Tidak hanya sesama bidan, tetapi juga kita sambungkan dengan dokter spesialisnya. Sehingga, kita sesama tenaga kesehatan menjadi lebih dekat dan saling mendukung satu sama lain.

 

 

Keterbukaan Berkomunikasi Mengikis Kuasa Suami terhadap Hak Reproduksiku

Keterbukaan Berkomunikasi Mengikis Kuasa Suami terhadap Hak Reproduksiku

Narasumber : Amanah (Penerima Manfaat Tidak Langsung, Ibu dari anggota Kaukus)

Saat ini usia saya sekitar 45 tahun dan telah dikaruniani 3 orang anak yang semuanya adalah perempuan. Semenjak di Lombok, suami saya tiba-tiba berkeinginan untuk menambah anak dan harus laki-laki. Saat itu, langsung mengarah kepada saya selaku istri dan itu sangat membebaniku. Saat itu, menuruti dan mengikuti kemauan suami adalahi bentuk bakti seorang istri kepadanya. Selama di Lombok, saya dibekali sebuah kios di rumah agar saya bisa tetap di rumah dan menjaga anak-anak. Hanya melalui anak perempuan saya yang paling besar, yang dapat saya harapkan untuk turut aktif mengikuti kegiatan di lingkungan desa. Dialah sumber informasiku dan bersamanya saya dapat berbagi keluh kesah termasuk tuntutan harus memiliki anak laki-laki.

Beberapa waktu lalu, ada kegiatan pengenalan 26 Tanda Bahaya Kehamilan dan Persalinan di rumah ibu kadus, tetangga depan rumah. Tetapi saya tetap tidak bisa ikut karena harus tetap di rumah. Karena dekat, jadi saya dari rumah turut menyimak materi dan diskusi kegiatan tersebut. “ibu hamil pada usia diatas 35 tahun, memiliki risiko kehamilan yang tinggi” kalimat dari ibu bidan ini membuat saya sontak tertegun. Kalimat tersebut terus mengganggu pikiran dan saya merasa sangat takut dan cemas. Saya pun bimbang dalam menentukan sikap antara mengikuti kemauan suami atau mempertaruhkan keselamatan saya. Saat itu, saya dalam keadaan belum haid dan berharap hamil. Saya resah, mulai mencari tahu lebih banyak mengenai risiko kehamilan, baik melalui anak ku hingga ibu-ibu posyandu yang mampir belanja di kios pun saya minta waktunya untuk berbagi pengetahuan pada buku KIA.

Beberapa bulan kemudian, saya menyadari bahwa saya sudah tidak haid hampir 3 bulan lamanya dan bersama suami kami sangat yakin kalau saya hamil. Kemudian, anakku menyarankan agar periksa ke puskesmas untuk lebih pasti. Dengan penuh harap saya pun ke puskesmas untuk memeriksa dan memastikan kondisi saya. Namun, setelah pemeriksaan ternyata hasilnya negatif. Saya tidak hamil. Saya hanya mengalami gangguan menstruasi. Di hadapan bidan, tangis saya pecah. Perasaan tak karuan, saya sangat takut. “Ya Allah, saya sudah pasrah, jika memang hanya sampai disini batas berumah tangga saya,” ucap  saya dalam hati, karena saya tahu dan paham bagaimana suami saya. Dan itu sangat membuat saya takut.

 

“Hasil pemeriksaan ini harus disampaikan dengan baik, tetapi saat ibu sudah tenang. Indah selalu bersama ibu.” kata anakku menenangkan saya. Lalu saya mulai berpikir, saya harus mengabari suami mengenai hasil pemeriksaan ini. Setelah saya merasa benar-benar tenang, saya sampaikan apa adanya dan saat itu suami saya tidak berkomentar apapun. Saya semakin takut dan cemas. saya sudah pasrahkan. Kemudian, selang beberapa waktu, saya terus menghubunginya kembali dan menyampaikan seperti yang dikatakan bidan waktu itu dan risiko hamil pada usia saya saat ini. Dan saya sampaikan pula bahwa gangguan haid yang saya alami karena terlalu stres memikirkan harus punya anak laki-laki, terlebih saat ini usia saya sudah masuk usia lanjut, kesempatan hamilnya pun mungkin kecil dan itu berisiko.

Saya tidak tahu, entah apa yang suamiku pikirkan tentang diri saya. Baru saya sadari bahwa saya tidak menyampaikannya secara langsung tetapi melalui telepon, yang baginya selama ini cukup tidak sopan, terlebih menyampaikan informasi yang cukup serius. Saya semakin pasrah. Tiba-tiba suami menghubungi saya dan menanyakan keadaan saya. “kata temenku, perempuan yang mengalami gangguan haid itu cukup berbahaya. Kamu harus periksa ke dokter. Kita tidak usah pikirkan mau hamil lagi untuk punya anak laki-laki”. Seketika itu saya terdiam sejenak, saya merasa sangat senang dan lepas, saya merasakan sebuah kebahagian yang tidak dapat saya ungkapkan. Beberapa hari setelah itu saya mulai haid kembali. Bagi saya itu perubahan yang sangat berarti dalam hidup saya. Dan sampai saat ini, kami tetap saling terbuka mengenai kesehatan reproduksi kami dan mencoba mempasrahkan diri untuk memiliki anak laki-laki.

Kelompok PKK sebagai Pendukung Jalannya Kaukus

Kelompok PKK sebagai Pendukung Jalannya Kaukus

“Momentum perubahan memang menjadi satu harapan banyak pihak di semua tempat, namun hal tersebut akan menjadi mimpi yang hampa tanpa ada gerakan kesadaran dan partisipasi serta pelibatan perempuan dalam setiap kegiatan. Dan perubahan itu harus dimulai dari akar rumput.”

Begitulah ungkap para anggota kaukus yang juga adalah anggota PKK ini. Pada kepemimpinan kepala desa sebelumnya dan sebelum ada program Power Up ini, PKK Desa Taman Indah tidak aktif meskipun mendapat alokasi dana dari desa. Selain itu, keberadaan dan keterlibatan perempuan di desa hanya melalui PKK saja, itupun terkesan ekslusif dan sedikit monoton.

Pemilihan kepala desa selanjutnya yang juga adalah awal  masuknya Power Up di Desa Taman Indah seolah membawa angin segar bagi kelompok-kelompok perempuan lain yang kemudian bergabung membentuk kaukus perempuan. Kepala desa yang baru sangat memberikan apresiasi serta mendukung penuh  kegiatan kaukus, apalagi dengan ikutnya Ibu Kepala Desa dalam struktur kepengurusan kaukus. Menurutnya, hadirnya kaukus membuat pemahaman tentang desa menjadi bertambah dan  mendorong perempuan untuk berpartisipasi dan berkarya.

PKK, yang hampir semua anggotanya juga adalah anggota kaukus, pun akhirnya rutin melakukan kegitan dari yang sebelumnya mati suri. Jumlah anggota PKK saat ini bertambah menjadi  29 orang yang terdiri dari perempuan di masing-masing dusun. Sejak Power Up intens memberikan informasi melalui pendampingan di desa berdampak positif pada rutinnya PKK melakukan pertemuan, yakni sebanyak 2 kali sebulan. Berbagai macam kegiatan yang dilakukan PKK, diantaranya pelatihan pembuatan pupuk, pembuatan kerajinan dengan kain perca, dan kegiatan-kegiatan lain yang biasanya terinspirasi dari social-social media. Adapun support dari desa berupa anggaran desa yang awalnya untuk PKK sekitar 7 juta dan kini naik menjadi 17 jutaan.

Salah satu anggota kaukus yang juga adalah kepala sekolah SMK Bangun Bangsa juga menerangkan bahwa setelah perempuan-perempuan di desa menjadi anggota kaukus, banyak inovasi pikiran yang dulunya tidak tahu apa itu anggaran pembangunan desa dan lainnya, kini hal tersebut bukan menjadi milik sebagian orang  di lingkup pemerintah desa saja, namun keberadaan kelompok perempuan justru menambah instrument dan kekuatan desa menuju desa yang berkemajuan lewat partisipasi kaukus.

Selain itu juga di tambahkan bahwa sejak Power Up mengenalkan kami banyak informasi berbasis tekhnologi, kami pun bisa bertukar informasi dengan kelompok-kelompok yang ada. Juga mendapatkan informasi dengan mudah seperti misalnya 26 Daya Kelin yang sebelumnya kami tidak pernah tahu sekarang kami jadi tahu dan ingin memberitahu yang lain lewat media social yang kami miliki baik secara pribadi maupun akun kelompok.

Penggerak Perempuan Desa Sepakek

Penggerak Perempuan Desa Sepakek

Narasumber : Isnaini (Ketua Kaukus)

Pada saat Power Up hadir di Desa Sepakek, beliau menganggap hanya kegiatan biasa saja. Seiring berjalannya waktu, dengan berbagai pengetahuan yang didapat dari kegiatan Power Up, beliau merasa sangat terbantukan terutama masalah penganggaran di desa dimana beliau juga merupakan ketua kaukus. Dengan amanah yang diberikan itu, beliau selalu mensupport kegiatan di desa, namun tidak jarang beliau juga mengkritik kebijakan-kebijakan desa yang dianggap tidak sesuai. Kini dengan berbagai ilmu dan pengalaman yang dimiliki melalui kaukus beliau mengajak seluruh perempuan di desa untuk berpartisipasi dan mendukung desa dalam kegiatan apapun.

Sebelum ada Power Up, beliau adalah anggota PKK dan juga KWT di desa. Namun, PKK saat itu tidak ada kegiatan. Saat ini, beliau dikenal sebagai wanita penggerak partisipasi, dalam arti bahwa ia selalu mendorong anggotanya melakukan perubahan. Pada saat Power Up ini berjalan, salah satu anggotanya terpilih sebagai anggota BPD, yang awalnya tidak ada keberanian sedikitpun untuk mengambil peran legislatif di desa, namun beliau terus memberikan dorongan agar keterwakilan perempuan lebih bertaring dalam system pemerintahan. Selain itu juga, pada setiap kegiatan hari besar, meskipun tidak ada dana dari desa, beliau tetap mengajak untuk membuat kegiatan dengan bergontong royong dan urunan baik kaukus maupun masyarakat secara umum.

Beliau juga dikenal sebagai perempuan kritis di era kepemimpinan kades dua periode ini. Saat pemilihan ketua KPM Desa Sepakek lalu, beliau hadir dan heran karena saat itu ketua KPMnya sudah terpilih. Dengan adanya informasi yang didapatkan dari WA GRUP, beliau melihat dan membaca persyaratan menjadi ketua. Ia menilai ada kejanggalan dengan persyaratan tersebut, beliau pun langsung menginterupsi memberikan pendapatnya terkait ketua KPM sesuai dengan persyaratan yang ada. Akhirnya dengan berbagai macam pertimbangan, dilakukan lagi musyawarah ulang untuk pemilihan ketua KPM.

Beliau sosok yang berpikir dulu sebelum bertindak, beliau terus menelurkan gelora semangat pada perempuan di Sepakek bahwa perempuan harus bisa membuktikan dirinya tidak hanya jago berkumpul dengan kata kata, namun bisa dibuktikan dengan karya-karya.

 

Rahmayanti, Seorang Ketua BPD Perempuan

Rahmayanti, Seorang Ketua BPD Perempuan


Narasumber : Rahmayanti (Ketua Kaukus/Ketua BPD/Ketua Kader)
Rahmayanti adalah Ketua Kaukus An-Nisa’ Desa Beraim, beliau juga menjabat sebagai Ketua BPD Desa Beraim dan Ketua Kader Desa Beraim. Sebelum adanya kaukus beliau menjabat sebagai Ketua Kader Desa Deraim selain profesi utamanya yang adalah seorang guru di TK PGRI Beraim. Setelah adanya kaukus, beliau berhasil masuk dalam calon BPD perwakilan perempuan yang ada di Desa Beraim dan terpilih menjadi Sekretaris BPD Desa Beraim, seiring waktu berjalan masyarakat Beraim melihat banyak perubahan yang terjadi baik itu dari kegiatan di desa maupun dari proses PPD. Beliau melakukan pendekatan kepada masyarakat secara umum dan khususnya kepada perempuan di desa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam segala kegiatan di desa. Beliau bersama program Power Up juga mendorong partisipasi perempuan dan mendorong perempuan untuk bisa dan berani bersuara dalam berbagai acara formal di desa.
Hasilnya perempuan lebih aktif untuk ikut terlibat dan perempuan Desa Beraim lebih berani dan kritis dalam menyuarakan hak dan kebutuhannya. Hal ini terlihat dari berbagai acara seperti Musdes dan Musrenbang di Desa. Ibu Rahmayanti juga terus mengawal segala kebutuhan perempuan dalam RKPDes agar bisa masuk dalam RPJMDes. Hasilnya, banyak kebutuhan perempuan yang bisa direalisasikan baik dalam RKPDes maupun APBDes, seperti perlengkapan posyandu, PMT ibu hamil KEK, PMT bayi dan balita, PMT bayi BGM, kelas ibu hamil, dan berbagai bentuk pelatihan seperti pelatihan tata boga, pelatihan tata rias, pelatihan ketak, pelatihan menjahit, dan lain sebagainya, yang biasanya pada tahun-tahun sebelumnya tidak pernah terlaksana.
Pada akhir tahun 2019, Ibu Rahmayanti diangkat menjadi Ketua BPD Desa Beraim. Jabatan ini dipercayakan kepadanya oleh masyarakat Desa Beraim dan anggota BPD yang lain, hal ini dikarenakan beliau dianggap mampu untuk membawa Desa Beraim untuk lebih maju lagi, beliau juga sangat aktif dalam kegiatan di desa maupun di kegiatan level Kecamatan dan Kabupaten. Banyak perubahan yang dirasakan khususnya masyarakat perempuan di Desa Beraim setelah terpilihnya Ibu Rahmayanti sebagai Ketua BPD, perempuan desa merasa ada wakil dari perempuan yang mempunyai posisi jabatan yang penting dalam proses PPD, hal ini bisa menjadi jembatan bagi perempuan untuk bisa terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya.