Rebranding Kaukus, Kaukus yang Merangkul Semua

Pada akhir Desember 2018 lalu terjadi pergantian kepala desa. Saat itu, kegiatan dari kaukus perempuan tetap terlaksana, akan tetapi mulai merasa pola komunikasi dan koordinasi yang aneh, tidak seperti biasanya dengan pihak Desa. Kaukus terkesan memisahkan diri dari desa. Kegiatan apapun justru dilaksanakan diluar desa dan tidak berkoordinasi dengan desa. Melihat hal itu, beberapa dari kami, berpikir kapan desa kami akan maju kalau terus seperti ini.

Selanjutnya, kami berkoordinasi dan menyampaikan perkembangan kaukus ke FD. Harapannya mendapatkan arahan, karena beberapa dari kami menginisiasi agar bisa terjadi perombakan kepengurusan. Arahan dari FD saat itu sih dikembalikan lagi kepada kami dan apapun keputusan kami saat itu FD akan tetap mendampingi. Pada November 2019 lalu, akhirnya kami melakukan musyawarah dengan mengundang ibu Kepala Desa yang baru dan beberapa istri staf desa yang akhirnya terpilihlah ketua kaukus baru. Pada kegiatan itu juga dibarengi dengan kegiatan Sensitisasi TIK Kesehatan dari Power Up, yang pada saat itu sekitar 25 orang kaukus hadir.

Setelah terpilih ketua baru ini, Alhamdulillah kaukus dan desa semakin bersinergi. Pada dasarnya, kaukus yang tidak memiliki alokasi dana dari desa untuk mengadakan berbagai kegiatan dan pertemuan, tetapi bersama PKK dapat saling mendukung dan menguatkan. Saat ini, PKK dan Kaukus mulai bersinergi dan membagi peran, dimana PKK yang memiliki sumber dana yang tetap, sedangkan kaukus yang mengorganisir massa. Saat ini, usulan kegiatan untuk PKK pun bersumber dari dan untuk memenuhi kebutuhan perempuan yang tergabung Kaukus. Salah satu kebutuhan perempuan untuk dapat berinteraksi langsung dengan pemerintah desa kini telah mulai terpenuhi. Bersama PKK, kaukus memiliki pertemuan rutin yang melibatkan kaukus, PKK, Kader, Remaja-remaji, perawat dan bidan desa, hingga aparatur desa. Pertemuan ini menjadi wadah untuk berbagi informasi sekaligus memberikan masukan dan saran yang dapat langsung direspon oleh yang berkepentingan, seperti masalah-masalah terkait pembangunan desa. Selain itu, hampir di semua kegiatan desa, sudah tidak peduli lagi apakah itu anggota Kaukus, PKK, Kader, karang taruna, ataupun pemerintah desa, semua membaur begitu saja.

Untuk partisipasi perempuan di musdus juga mulai tinggi, minimal 5 orang perempuan selalu hadir di musdus dari yang sebelumnya tidak ada. Sekarang ibu-ibu juga semakin sering ke posyandu, ramai sekali. Selain itu, perempuan-perempuan disini akhirnya lebih melek teknologi. Setelah ada pelatihan TIK di kaukus dan kami yang turun langsung untuk mensosialisasikannya, ibu-ibu disini merasa senang karena tidak melulu hanya mengenal facebook saja. Mereka juga bertanya tentang aplikasi-aplikasi lain. Apalagi ditambah kemudahan dari desa yang menyediakan wifi di semua dusun.

Perubahan dari segi ibu hamil, kini ibu-ibu hamil yang tinggal di dusun yang jauh, cukup menelepon ke ibu bidan saat ada yang tidak dipahami setelah menelepon 26 Daya Kelin. Penggunaan teknologi seperti telepon dan Whatsaap juga sangat mempermudah akses informasi ibu hamil, apalagi kendala di desa ini adalah tidak adanya kendaraan. Banyak ibu-ibu yang ditinggal suami untuk menjadi TKI, sehingga tidak ada yang mengantar untuk pemeriksaan. Kunjungan ke Polindes pun perkembangannya semakin bagus. Ibu-ibu hamil pertama juga banyak yang mulai aktif bertanya ke Bu Bides. Dari yang sebelumnya banyak ibu muda yang terlalu percaya omongan keluarga, misal saja ketika mereka tidak bisa makan sama sekali, dari pihak keluarga justru mengatakan ‘biasa, memang begitu’ dan tidak diarahkan ke polindes, dan sekarang ini tidak begitu lagi.

Perubahan yang paling bermakna menurut kami adalah bahwa kini kaukus dengan desa seolah tak berjarak, desa semakin semarak karena baik ibu-ibu, bapak-bapak, maupun para remaja, semua memiliki kegiatan. Selain itu juga, teknologi kini memudahkan informasi untuk setiap kegiatan yang ada di desa. Dulu sebelum ada teknologi, kita harus turun untuk memberitahu warga jika ada kegiatan, selain itu juga teknologi membantu kami memberitahu warga yang telat terkait kondisi di tempat kegiatan, jadi tinggal foto dan kirim, tidak ada alasan tidak memiliki quota karena sudah disediakan wifi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *