Saya terlibat di kegiatan Power Up ini sejak kegiatan Sosialisasi TIK dan 26 Tanda Bahaya, dari yang tim kecil untuk tenaga kesehatan sampai sensitisasi yang melibatkan 150 orang. Sejak adakegiatan Power Up ini saya merasakan beberapa perubahan. Yang pertama ialah dari sisi sinergi dengan pihak desa terkait masalah kesehatan. Saya mulai sering dilibatkan pada penyusunan RPJMDes dan dimintai pendapat tentang kegiatan-kegiatan apa yang saya butuhkan. Dari situ, akhirnya terealisasilah kegiatan-kegiatan untuk ibu hamil seperti pemberian PMT Ibu Hamil, Kelas ibu hamil, dan sarana-prasarana polindes juga termasuk mobil siaga desa yang kami manfaatan sebagai ambulans.

Yang kedua, meningkatnya kunjungan pemeriksaan kehamilan ke saya. Sejak dulu saya sudah menyediakan layanan pemeriksaan kehamilan di setiap 13 posyandu di Desa Sintung. Namun antusiasnya minim, paling hanya 1-2 orang ibu hamil saja yang datang. Nah, sejak adanya PMT Ibu Hamil ini, kunjungan saya di posyandu mulai meningkat. Sekarang, hampir semua ibu hamil telah terlayani oleh posyandu, paling hanya 1 atau 2 orang yang tidak bisa datang karena ada kesibukan lain.

Selanjutnya, setelah ada sensitisasi 26 Daya Kelin, saya merasakan ibu-ibu hamil di desa ini semakin aktif, rasa ingin tahunya meningkat. Ada keluhan sedikit, saya di WA atau ditelepon. Apalagi saat ini HP mereka mulai bagus-bagus, jadi saat mereka duduk-duduk pun, mereka bisa menelepon 26 Daya Kelin dan kemudian jika ada yang tidak dipahami, saya di-WA atau ditelepon. Nomor HP saya sudah tertera di buku KIA mereka masing-masing. Kalau sebelum ada Power Up, meskipun mereka memiliki nomor saya, tapi yang berkonsultasi lewat HP sangat minim. Saat ini bisa dibilang sangat aktif, khususnya ibu hamil di trimester pertama dan ketiga.

Perubahan paling penting saya rasakan adalah penjaringan untuk ibu-ibu hamil beresiko tinggi menjadi lebih mudah. Sejak awal, kami petugas kesehatan sudah bisa mengelompokkan siapa-siapa saja yang beresiko. Dari Puskesmas Bagu (yang menaungi 5 desa) juga akhirnya berinisiatif membuat WAG yang isinya ibu-ibu hamil beresiko. Dalam WAG tersebut, ada kepala puskesmas, semua bidan desa, bidan gizi, dokter, dan ibu-ibu hamil beresiko. Nomor-nomor ibu hamil ini kami dapat saat kunjungan pertama kali di polindes, berhubung bidan desa juga berperan sebagai admin dalam WAG itu, nomor-nomor ibu hamil yang kami dapatkan bisa langsung kami masukkan ke WAG.