Lebih Berani Memperjuangkan Hak Diri dan Kelompok

Narasumber : Jumasih (Tim Penyusun RKPDes, Anggota Kaukus, Ibu Hamil)

Sebelum ada kegiatan Power Up ini, saya tidak tahu apa-apa tentang desa. Bahkan untuk membuat surat-surat pun saya melalui orang lain saja, tidak pernah ke kantor desa, saking malunya dan tidak ada keberanian untuk berurusan semacam itu ke desa. Nah, setelah mengenal Kaukus, kumpul-kumpul dengan ibu-ibu bahwa ada hak perempuan di desa untuk menyuarakan kebutuhan kita sendiri. Jadi saya mikir, ‘iya ya, kenapa dulu saya harus malu atau tidak berani?’ Jadi, kini saya mulai aktif melibatkan diri, hingga sekarang dipercaya menjadi tim 9, tim penyusun RKPDes.

Kegiatan-kegiatan Kaukus yang saya ikuti seperti pengenalan 26 Daya Kelin dan peran perempuan di desa. Dari seluruh kegiatan yang saya ikuti, perubahan diri saya yang paling saya rasakan bermakna adalah sekarang saya menjadi lebih berani memperjuangkan hak saya dan hak kelompok. Untuk hak kelompok, saya lebih spesifik mendorong agar anggaran untuk kesehatan dan remaja. Karena basic  saya adalah di remaja dusun dan juga sebagai kader.

Sebagai tim penyusun, meskipun masih baru dalam hal-hal anggaran ini, saya dan tim penyusun lain berusaha mendorong agar pelayanan kesehatan semakin baik, misalnya pengadaan balai posyandu dan sarana-prasarananya. Sedangkan untuk remaja, saya mendorong bagaimana agar remaja dapat menyalurkan kreatifitasnya. Karena remaja di desa ini sangat kreatif orang-orangnya, tapi tidak ada tempat menyalurkan, utamanya agar mereka memiliki penghasilan dari kreatifitasnya itu. Jadi, tim penyusun RKPDes mendorong desa untuk mengadakan penyuluhan wirausaha untuk remaja, apalagi di desa kami ini kan ada yang namanya kampung selfie.

Karang taruna di desa ini sebelumnya itu vakum, hanya namanya saja ‘taruna’ tapi kegiatan-kegiatannya dijalankan oleh staf desa. Jadi saya mendorong dan memotivasi agar remaja di dusun saya terlibat ke karang taruna desa dan menghidupkannya kembali. Kini, Karang Taruna di desa sudah mulai membentuk kepengurusan yang memang diisi oleh pemuda-pemuda desa.

Terkait hak diri, setelah mendapatkan pengenalan 26 Daya Kelin, saya sebagai ibu hamil banyak takutnya. Jadi, kalau pusing sedikit, saya langsung mikir, ‘Duh, anemia dah saya ini.’ jadi bisa mengantisipasi dan tidak termakan mitos dari omongan tetangga. Kemudian, saya jadi lebih aktif bertanya saat memeriksakan kandungan. Suami saya pun yang juga pernah terlibat di sensitisasi 26 Daya Kelin selalu aktif menanyakan hasil pemeriksaaan kehamilan saya dan rajin membaca-baca buku KIA.

Selain itu, surat-surat kependudukan sudah saya lengkapi, saya meminta pada suami dan keluarganya untuk menikah resmi meskipun di wilayah sini biasa terlihat warga yang menikah dulu tanpa memikirkan kelengkapan suratnya, tapi saya maunya harus resmi agar pengurusan surat-surat lain setelah menikah bisa lebih mudah. Setelah menikah pun saya langsung meminta untuk pisah KK meskipun masih tinggal dengan mertua. Sehingga kini saya sudah memiliki BPJS sebagai persiapan untuk persalinan saya nanti, seperti anjuran bu bidan saat sensitisasi.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *