Narasumber : Sumiati (Anggota Kaukus, Tim Penyusun RKPDes)

Saya sudah 6 tahun menjadi seorang kader posyandu dan selama 4 tahun ini terpilih sebagai ketua forum kader di Desa. Posisi ini turut mengantarkan saya untuk selalu dilibatkan oleh Desa dalam berbagai kegiatan termasuk proses perencanaan penganggaran desa. Akan tetapi, selama 4 tahun dilibatkan tersebut saya hanya sebagai peserta pelengkap, pendengar dan penonton aktif pada kegiatan yang ada. Orang-orang sangat antusias dan banyak perdebatan yang berkaitan berbagai usulan kegiatan dan alokasi anggaran yang dikaitkan dengan RPKMDes, RKPDes, APBDes, Dana Desa dll, tetapi saya sendiri tidak tahu sama sekali mengenai hal tersebut. Saat itu saya hanya berfikir hanya desa yang tahu dan tempat mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang proses perencanaan desa tersebut. Sementara saya merasa kesulitan mencari dan mendapatkan informasi tersebut dan saya merasa kok itu seperti sebuah hal yang dirahasiakan.

Sejak tahun 2018, saya mewakili kader posyandu untuk terlibat dalam kaukus perempuan desa. Bersama kaukus saya banyak belajar melalui berbagai kegiatan yang melibatkan perempuan lainnya. Semenjak itu saya mengikuti kegiatan simulasi PPD, disana saya mulai mengetahui dan memahami menganai apa itu RPJMDes, RKPDes, APBDes hingga tahapan prosesnya. Semakin banyak teman perempuan yang terlibat, saya merasa sangat bersemangat karena ada teman berbagi. Hal ini yang membuat rasa percaya diri dan mental saya semakin kuat untuk dapat bersanding dengan pemdes dalam berbagai kesempatan.

Dari semua itu, yang paling berkesan dan membanggakan bagi saya yang pernah saya lakukan adalah mampu me-loby pemerintah desa hingga menjadi transparansi mengenai anggaran kesehatan. Sebelumnya saya pun terpilih sebagai tim 11 untuk menyusun RPJMDes. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk memfasilitasi kelompok perempuan di masyarakat untuk mendapatkan informasi yang cepat dan akurat mengenai pembangunan di Desa. Hal itu menjadi lebih jauh mudah dengan memanfaatkan WA group bersama. Bahkan untuk pertama kalinya terdapat 2 orang perempuan terpilih sebagai tim 11. Untuk sampai kesana kami berjuang hampir lebih 3 kali menunjukkan pemahaman kami mengenai PPD agar dapat diberi kesempatan itu. Saya akui, kekompakan kelompok perempuan melalui kaukus ini yang turut berkontribusi begitu besar terutama dalam mengumpulkan aspirasi kebutuhan perempuan di desa. Dan semangat kami saat itu, harus ada perwakilan perempuan agar mereka tidak asal berbicara dalam memenuhi kebutuhan perempuan.

Pada akhir tahun lalu, bersama teman-teman kader posyandu mulai merasakan keresahan mengenai pelaksanaan RKPDes di Desa. Kami merasa ada hal yang belum tuntas dilakukan oleh desa sesuai perencanaan di desa. Untuk itu kami mulai membagi peran dan buka sesi diskusi melali WA group. Saya selaku perwakilan perempuan yang menjadi salah satu tim 11 pun menyampaikan informasi yang saya ketahui terkait hal tersebut. Bahwa pada dasarnya perencanaan di desa umumnya untuk 1 tahun, dengan pencairan anggaran per-triwulan sampai kegiatan ini terlaksana. Selanjutnya, teman-teman perempuan lain juga mencari aksesĀ  informasi lain seperti DPD. Salah satu teman memiliki akses kesana, sehingga bersamanya kami melakukan loby untuk mendapatkan hasil evaluasi atau laporan terkait pencapaian dan progres pelaksanaan RKPDes saat itu. Kami pun terbuka menyampaikan tujuan dan maksud kami mencari informasi tersebut, dan tanpa menghadapi tantangan DPD yang kami temui pun terbuka dan memberikan informasi tersebut berupa dokumen. Dokumen ini kami langsung share kembali ke WA group dan kami diskusikan kembali.

Dokumen tersebut menjawab kekhawatiran kami. Memang benar perencanaan untuk 1 tahun, dan refleksi kami menunjukkan alokasi anggaran dengan item kegiatan masih belum selesai dilaksanakan, masih ada yang belum. Hal ini terjadi karena keterlambatan pencairan anggaran kegiatan, dimana pencairan pertama dilakukan pada triwulan 2, sehingga tersisa anggaran 1 triwulan yang belum digunakan. Hasil ini pun kami gunakan sebagai data dan bukti untuk mendapatkan penjelasan langsung oleh pemerintah desa. Kami pun menyampaikan hal tersebut sebelumnya ke BPD dan mengarahkan kami untuk ke pemerintah desa. Awalnya desa kaget dan tampak marah karena kami meiliki dokumen tersebut. Tetapi dengan tenang kami pun terbuka menyampaikan mengenai kegundahan dan proses yang telah kami lakukan hingga mendapatkan dokumen tersebut. Pada akhirnya, pemerintah desa pun mengakui hasil analisa kami mengenai anggaran kegiatan yang belum digunakan karena keterlambatan pencairan anggaran waktu itu. Selanjutnya giliran kami yang kaget, karena tidak pernah kami sangka bahwa pemerintah desa saat itu juga menujukkan ke kami dokumen perencanaan yang sudah dilaksanakan dan belum dilaksanakan. Adapun kegiatan yang belum terlaksana antara lain pelaksanaan kegiatan posyandu (1 triwulan), Perbaikan irigasi, Perbaikan jalan, dan Rabat jalan untuk dusun baru di dusun Montong Goaq. Dan dengan terbuka pemerintah desa mengajak kami untuk memastikan pelaksanaan item tersebut di awal tahun ini. Sampai bulan ini, kegiatan yang belum terlaksana tersebut kini sudah terlaksana, dan kami pun turut melakukan pemantauan saat pelaksanaan.

Sekarang pemerintah desa kami menjadi lebih terbuka mengenai informasi yang ada di Desa. Termasuk perencanaan penganggran desa, pemdes telah memiliki papan data tersendiri untuk itu. Dan siapa saja yang membutuhkan informasi dan data tersebut dapat mengakses ke Pemdes. Selain itu juga, desa memiliki WA group yang terbuka bagi semua masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk meminta berbagai informasi dan data. Kami pun bisa lebih cepat juga untuk saling update dan klarifikasi kegiatan-kegiatan yang kami lakukan.