Dari Ketidaktahuan Menjadi Tahu dan Terlibat

Narasumber : Yeni Sasmita

Perkenalkan nama saya Yeni Sasmita S.E , saya seorang guru madrasah dan seorang ibu rumah tangga yang sehari hari biasanya bergelut di sekolah dan rumah saja, tidak pernah melakukan aktifitas lain di luar rumah apalagi melakukan hal–hal yang berkaitan dengan masalah perencanaan penganggaran ataupun hal lainnya yang berkaitan dengan  kegiataan desa.

Pada tahun 2016, saya pindah tempat tinggal yang dulunya ikut suami di Desa Beber Kecamatan Batukliang kemudian kembali ke desa asal saya di Dusun Dasan Baru Desa Murbaya Kecamatan Pringgarata karena bercerai. Perceraian tersebut dilatarbelakangi oleh adanya tindak kekerasan baik secara fisik maupun mental dalam Rumah Tangga. Hal itu kemudian membuat saya begitu trauma, terutama bagi anak-anak saya. Saya mulai hidup sebagai seorang single parent dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Sayapun harus berpikir keras untuk bisa mencukupi semua kebutuhan mereka sementara saya hanya mengandalkan gaji sertifikasi yang tidak tentu cairnya.

Dengan latar belakang seperti itu, saya jadi memiliki keinginan kuat untuk memberdayakan dan melindungi kaum perempuan agar tidak tertindas secara lahir dan batin dalam sebuah rumah tangga atau dalam sebuah hubungan  dalam masyarakat secara luas, saya ingin perempuan- perempuan di daerah saya mandiri dan tidak sedikit-dikit mengandalkan suami. Karena menurut saya kaum perempuan juga punya skill dan kemampuan yang tidak kalah hebatnya dengan kaum laki-laki jika mereka diberdayakan.

Keinginan saya ini kemudian sampai ke Ibu Subakyah (Ketua Kaukus saat itu), yang akhirnya mengajak saya untuk ikut pelatihan sensitisasi proses perencanaan di desa.  Kalau tidak salah, Bulan September  tahun 2018 lalu. Dimana pada saaat itu kami diajarkan tentang bagaimana peran perempuan untuk dapat ikut terlibat dalam proses perencanaan penganggaran desa dan mengusulkan program-program yang responsif gender.   Tentu program POWER UP ini sangat sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dan niat saya agar nantinya perempuan bisa lebih berdaya dan mampu memperjuangkan hak dan kebutuhannya.

Sebelumnya saya tidak pernah datang ke kantor desa apalagi sampai terlibat dalam proses perencanaan penganggaran di desa. Tidak ada gambaran sedikitpun tentang alur dana desa dan prosesnya seperti apa. Saya datang ke kantor desa hanya kalau mengurus surat-surat kependudukan atau sejenisnya. Sebulan kemudian, saya ikut pelatihan itu lagi yang sekaligus dibarengi dengan perombakan kepengurusaan kaukus, dan Alhamdulillah saya terpilih sebagai ketua baru menggantikan ketua sebelumnya.

Dari itu saya mulai aktif mengkampanyekan program–program kaukus ke semua elemen masyarakat dan juga Pemdes Murbaya walaupun pada saat itu kaukus masih dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai sebuah kelompok yang mengajarkan hal hal yang dianggap bertentangan dengan ajaran atau norma-norma yang berlaku di masyarakat, terlebih lagi oleh Pemdes Murbaya.  Apalagi kepala desa sebelumnya tidak menerima adanya kaukus ini, karena tidak dianggap lembaga positif yang baik untuk desa.

Namun setelah saya memberikan pemahaman terkait program-program kaukus, akhirnya mereka mau menerima dengan tangan terbuka, apalagi setelah mereka melihat langsung jenis kegiatan kegiatan yang dilakukan kaukus dengan melibatkan semua elemen masyarakat. Alhamdulillah saya sebagai ketua kaukus juga jadi sering diundang dan dilibatkan dalam setiap kegiatan dan musyawarah yang ada di desa yang membuat saya tahu dan paham bagaimana proses perencanaan di desa. Saya pun dipercaya ikut terlibat dalam penyusunan RPJMdes, Tim verifikasi RKPdes dan tim penyusun RKPdes. Tidak hanya itu saja, saya juga dipercaya sebagai Kader Pembangunan Manusia untuk Desa Murbaya saat ini.

Alhamdulillah semuanya berawal dari keterlibatan saya sebagai ketua Kaukus Kartini Murbaya dan semua kegiatan yang pernah dilakukan oleh kaukus yang tidak hanya mengajak dan mengajarkan kita bagaimana cara memberikan pendapat tapi juga membangun mental yang luar biasa untuk perempuan-perempuan Desa Murbaya yang awalnya tidak pernah tahu menjadi tahu sampai terlibat dalam proses perencanaan penganggaran di desa seperti yang saya alami.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *