Berbagi Peran untuk Saling Meringankan

Narasumber: Supardi (Kader laki-laki, Suami Anggota Kaukus)

Keberadaan kaukus perempuan di desa merefleksikan anjuran agama untuk memandang sesama manusia bukan hanya pada dia laki-laki atau dia perempuan melainkan pada kebutuhan sebagai manusia,  ini saya dapatkan dulu dalam sebuah pengajian. Saya pun baru mengetahui keberadaan kaukus perempuan di desa setelah saya menikah. Istri saya menjadi bagian dari kaukus perempuan tersebut telah cukup lama, dan saya merasa turut terbawa atas perubahan semangat dari istri saat ini. Sebagai keluarga yang baru menikah, Saya pun turut mendukungnya dengan berbagi peran mengurus rumah, saling mengisi, dan saling menghormati satu samalain.

Semangat dan motivasi dari istri tersalurkan ke saya dan ini menjadi kekuatan saya sampai saat ini. “Berdua yang memikirkan lebih baik dari pada sendirian” katanya saat itu, ini yang terus membangun semangat saya dalam membangun keluarga. Saya akui, saat merencanakan pernikahan pun dia yang menginisiasi untuk berbagi tugas termasuk dalam menyiapkan dokumen persyaratan pernikahan. Dari situ saya mulai menilai diri saya sendiri, melihat kegigihan istri sampai saat ini, saya merasa dia jauh lebih dominan bahkan segala inisiatif selalu muncul dari dia. Kalau dilihat dari lingkungan kami disini, pasti akan dikira bahwa saya kalah sama istri dan istri akan selalu disalahkan. Tetapi saya memiliki prinsip untuk selalu melihat dari sisi kebaikan dan saya pun merasa tidak direndahkan sebagai seorang suami melainkan ada teman berbagi segala hal.

Selanjutnya, hal baru lain yang kini saya alami yaitu terlibat dalam merencanakan kehamilan dan persalinan istri. Tanpa saya sadari bahwa saya mampu berdiskusi akan hal tersebut bersama istri, saya tidak risih. Kemudian, saya pun dilibatkan lebih jauh untuk mengenal perempuan dan kehamilannya melalui kegiatan sosialisasi TIK 26 tanda bahaya kehamilan dan persalinan di desa. Informasi dan pengetahuan dalam kegiatan ini merefleksikan diri saya terhadap istri saya yang tengah hamil muda dan mendorong saya untuk lebih inisiatif dalam menjaga kesehatan istri selama kehamilannya. Karena selama kehamilan, dukungan seorang suamilah yang menjadi nutrisi paling mujarab bagi istri. Laki-laki juga butuh tahu mengenai perempuan agar bisa memposisikan diri dan mampu berbagi peran untuk saling meringankan dan menguatkan. Hal ini juga yang menguatkan saya sebagai seorang kader laki-laki di lingkungan saya dan paling tidak dapat memberikan dukungan moral bagi ibu-ibu hamil lainnya.

Sekarang saya terus mengikuti perkembangan kehamilan istri saya. Turut mendampingi saat melakukan pemeriksaan kehamilan ke layanan kesehatan. Saya tidak berani menduga-duga keadaan istri, tetapi lebih terbuka menanyakan keadaannya, mencari informasi tentang kesehatan pun secara bersama-sama. Apa yang kita bangun dan lakukan sekarang ini telah menjadi contoh bagi keluarga besar saya sendiri hingga lingkungan tetangga lainnya. Kepedulian dan memandang semua orang itu sama, membuat istri dan keluarga saya menjadi cukup disegani bahkan peran perempuan disekitar kami menjadi lebih didengarkan.  Sehingga, sebagai suami, tidak ada alasan untuk membatasi ruang gerak istri saya karena dia punya hak untuk terus berkembang melalui berbagai cara, termasuk pemanfaatan teknologi yang didapatkan melalui Kaukus perempuan. Bahkan, saya pun akan turut terlibat berjuang bersama untuk kesetaraan perempuan yang mana untuk kemaslahatan bersama

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *