Outreach and Services Delivery by visiting target groups

Kegiatan Outreach tetap dilaksanakan selama program sampai akhir Desember 2018. Kegiatan ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu kegaiatan Sosialisasi S/GBV dan kesehatan reproduksi; dan dukungan psykososial (Painting and Drawing). Selain itu, selama kegiatan outreach dilakukan assessment dan pemetaan focal point untuk penguatan promosi S/GBV dan kesehatan reproduksi, serta membangun system perlindungan di di desa. Kegiatan ini telah dilakukan diberbagai dusun dan desa di kecamatan Tanjung, kecamatan Gangga, dan  kecamatan Khayangan. Selain kegiatan ini dirangkaikan upaya mendekatkan akses layanan kesehatan reproduksi kepada penyintas di desa. Hal ini sebagai upaya untuk mendorong kesadaran penyintas mengenai bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender/seksual serta agar mengakses layanan public untuk pengaduan kekerasan berbasis gender dan mengakses layanan kesehatan reproduksi yang tersedia.

Sosialisasi Kekerasan Berbasis Gender dan Kesehatan Reproduksi

  1. Kecamatan Tanjung (Posko Desa Medana)

Sampai bulan November 2018, relawan telah menjangkau 373 laki-laki dan 3216 perempuan di 6 desa, kecamatan Tanjung.

Kelompok remaja di desa Medana, telah memahami terkait kekerasan dan merupakan hal yang melanggar hukum. Akan tetapi, pemahamannya bahwa kekerasan itu berupa kekerasan fisik semata. Dengan adanya sosialisasi, mereka mulai mengerti bahwa bentuk bentuk kekerasan tidak hanya berupa fisik, termasuk ekonomi, seksual dan kekerasan verbal.

Telah banyak ditemukan kasus kekerasan sejak sebelum gempa, bahkan kelompok remaja pernah menangani dan melakukan pendampingan kasus kekerasa. Hingga telah ada inisiasi membentuk awik-awik. Akan tetapi, persepsi masyarakat menganggap bahwa awik-awik bukanlah solusi utama, melainkan membangun kesadaran dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.

  1. Kecamatan Gangga (Posko Desa Sambik Bangkol)

Sampai bulan November 2018, relawan telah menjangkau 281 laki-laki dan 2034 perempuan di 3 desa (desa Rempek, desa Gondang dan desa Sambik Bangkol), kecamatan Gangga.

Masyarakat di kecamatan gangga, cukup kuat dengan kultur agama. Sebagian besar masyarakat memiliki persepsi bahwa kekerasan sebagai hal yang wajar dilakukan pada anak atau keluarga, dengan maksud mendidik. Berdasarkan hukum agama juga tidak ada larangan dalam melakukan pemukulan terhadap anak.

  1. Kecamatan Khayangan (Posko Desa Salut)

Sampai bulan November 2018, relawan telah menjangkau 403 laki-laki dan 1101 perempuan di 4 sekolah, desa Salut dan desa Selengen, kecamatan Khayangan.

Di desa Salut masyarakat telah mendapatkan pengetahuan dan mulai menyadari bahwa menikahkan anak pada usia anak (dibawah usia ideal) merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap anak. Sehingga masyarakat dan dan remaja mendorong agar Organisasi Kepemudaan di Desa agar tugas dalam menjaga keamanan bukan semata menjaga harta benda yang masih terselamatkan, tetapi termasuk menjaga lingkungan agar aman dari tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Di lingkungan sekolah, MTs Nurul Ikhsan mendorong untuk menegakkan dan menguatkan awik-awik yang telah berlaku di sekolah tentang Perkawinan Usia Anak. Sejauh ini masih sebatas pada adanya sanksi berupa denda kepada sisa/siswi yang hendak menikah. Dan di anggap bukan sebagai solusi untuk mencegah mereka menikah.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *