Workshop Photo Voice Bagi Relawan Remaja Program Kemanusiaan PKBI

Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2018, di Mataram. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman baru tentang Photo Voice bagi relawan remaja/kaum muda dan mempermudah dalam pendokumentasian program kemanusiaan PKBI-UNFPA di Lombok Utara. Peserta kegiatan ini berjumlah 12 orang dari relawan non medis dan 8 orang dari staf remaja pelaksana program di PKBI NTB.

Kegiatan ini diberikan  relawan muda yang non medis, ini akan dirangkaikan dalam dukungan  psykososial bagi penyintas remaja. Diharapkan mampu mendorong keterlibatan penyintas remaja untuk mendorong komunitas nya untuk kembali pulih. Pada kegiatan tersebut, peserta dibekali berbagai materi coaching dari Riyan A. Syakur (konsultan Photo Voice). Kegiatan diawali dengan pengumpulan foto dan review beberapa foto yang sudah diambil relawan selama dilapangan. Selanjutnya diberikan materi tentang Strategi Memaksimalkan Fotografi Smartphone dan Menulis Caption : Bercerita melalui Foto. Pesrta kegiatan ini akan menjadi fasilitator untuk remaja yang ada di desa. Kelompok remaja di desa akan latih dan di damping juga untuk mengambil foto dan membuat caption terhadap foto tersebut. Diharapkan foto yang di ambil dapat menunjukkan kebangkitan mereka pasca bencana.

Setelah review dan materi, relawan dibagi berpasang-pasangan dan ditugaskan untuk memotret  pasangannya dengan cerita tersen diri untuk foto yang diambil. Atau dapat juga berdiskusi dengan teman pasangannya menentukan foto yang sudah di dapatkan selama di lapangan. Disini diminta untuk mencoba mempraktekkan apa yang sudah didiskusikan/materi, termasuk cara meminta izin untuk pengambilan foto. Adapun hasil pengambilan foto dan caption selama kegiatan :

 

Foto Caption
Kawan kawan biasanya memanggilnya Hamzah. Pemuda yg mengemban tugas sebagai relawan demi kemaslahatan masyarakat. Namun hari ini dia sedang tidak dalam tugas. Dia harus mengikuti pelatihan di gedung “Bale ite” sebagai fotografer. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, terlihat dari raut wajahnya yang sedang berusaha memikirkan apa yg seharusnya dia tulis dalam tugas yg diberikan mas Rian untuk membuat sebuah caption yg ada didalam sebuah foto. “Mengarang itu tidak semudah menyotnek dalam ujian matematika. Karna mengungkapkan perasaan didalam foto itu sangat sulit” ujarnya ketika dia melihatku mencoba mencontek karangan orang lain.

By. Abdul

  Tak perlu malu untuk menyediakan santapan bergizi keluarga , amaq Epol dusun Kelongkong desa Sambi Bangkol dengan pepes ikannya.                                                        Berbagi peran dalam kebencanaan.

By. Toni

  Bermain kelereng. Anak-anak di desa Salut bermain bersama memainkan games tradisional tanpa memandang laki-laki dan perempuan. Mereka bermain begitu riang seperti sedia kala.

Umumnya permainan ini hanya dilakukan oleh anak laki-laki, namun tidak bagi mereka. Perempuan pun dapat melakukan permainan ini, bahkan bermain bersama dengan cekatannya.

By. Jack

  Tidak ada guncangan yang cukup besar yang dapat meruntuhkan kebahagiaan kami. Rumah dan sekolah kami boleh hancur oleh gempa tapi tidak kebahagiaan dan masa depan kami. Lihat, aku adalah tentara pelindungmu, tetaplah merasa nyaman di belakangku.

By. Hamzah

  Nampak sepasang Remaja usia sekolah sedang duduk bertamasya di taman Narmada. Siang itu sebenarnya akan jadi liburan yang menyenangkan bagi mereka, namun terdengar meraka sedang bertengkar dan ceweknya menunduk terisak. Setelah ditanyai ternyata ceweknya hamil.

 

Bagi Remaja seusia mereka belum tau harus ngapain kalau sudah seperti ini. Rasa takut dan penyesalan membuat mereka bingung apakah harus menikah atau menggugurkan. Kalau akan menikah mereka belum siap baik secara finansial dan takut dengan keluarga. Sedangkan kalau akan menggugurkan mereka tidak tahu akan bagaimana dan minta tolong siapa.

(Foto Ilustrasi, by. Alwi)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *