Gender dan Kesetaraan Gender

Apa itu Gender? Kenapa Setiap dalam Training maupun Pelatihan membahas Gender??

Mari Kita Ulas dan Pahami Bersama, berdasarkan Wikipedia 

” Kesetaraan gender, dikenal juga sebagai keadilan gender, adalah pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka. Ini adalah salah satu tujuan dari Deklarasi Universal Hak asasi Manusia, PBB yang berusaha untuk menciptakan kesetaraan dalam bidang sosial dan hukum, seperti dalam aktivitas demokrasi dan memastikan akses pekerjaan yang setara dan upah yang sama ”


Gender, merupakan suatu konsepsi yang diakui sebagai penyebab ketimpangan hubungan antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan berada pada status yang lebih rendah. Di Indonesia sendiri, kasus keadilan seputar kesetaraan gender masih menjadi isu yang hangat. Penyebabnya satu, Indonesia menanggapi isu ini setengah-setengah. Ambil saja contoh para wanita yang menuntut adanya pemberlakuan keadilan diantara dirinya dengan lawan jenisnya, yakni kaum pria.

–   bentuk-bentuk ketidakadilan gender

  1. sterotype

Semua bentuk ketidakadilan gender diatas sebenarnya berpangkat pada satu sumber kekeliruan yang sama, yaitu sterotype gender laki-lzki dan perempuan. Sterotype itu sendiri berarti pemberian citra baku atau label cap kepada seseorang atau kelompok yang di dasarkan pada suatu anggapan yang salah satu sesat.

  1. kekerasan

Kekerasan( violence )artinya tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang di lakukan oleh satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyrakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya. Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan di anggap feminsm dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya.

  1. beban ganda( double burden )

Beban ganda artinya beban pekerjaan yang di terima salah satu jenis kelanin lebih banyak di bandingkan jenis kelamin lainnya. Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja di wilayah publik, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestik.

  1. marjinalisasi

Artinya suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan. Banyak cara yang dapat digunakan untuk memarjinalkan seorang atau kelompok. Salah satunya adalah dengan menggunakan asumsi gender. Misalnya dengan anggapan bahwa perempuanberfungsi sebagai pencari nafkah tambahan, maka ketika mereka bekerja di luar rumah seringkali dinilai dengan anggapan tersebut.

  1. subordinasi

Subordinasi artinya suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang di lakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain. Telah diketahui, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan di anggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan publik atau domestik.

– Contoh kasus kesetaraan gender

Dari kasus yang saya ambil yaitu kasus seorang nenek yang bernama Asyani dari Sutobondo yang tidak mendapatkan keadilan dalam hukum di Indonesia karena mengambil tujuh batang kayu milik perum perhutani. Dalam kasus tersebut sudah menjelaskan bahwa membiarkan seorang perempuan tua dalam penjara selama itu dari sisi kemanusiaan tentu sulit untuk di terima.di mata hukum islam, semua orang memiliki kedudukan yang setara, muslim atau non muslim pria atau wanita, kaya atau miskin, berkedudukan tinggi atau rakyat biasa. Jadi, dalam kasus tersebut menganggap bahwa semua tidak setara karena menganggap wanita terlalu lemah menanggapi kasus tersebut.

Kesetaraan gender tidak harus di pandang sebagai hak dan kewajiban yang sama persis tanpa pertimbangan selanjutnya. Malu rasanya apabila perempuan berteriak mengenai isu kesetaraan gender apabila kita artikan segala sesuatunya harus mutlak sama dengan laki-laki. Karena pada dasarnya, perempuan tentunya tidak akan siap jika harus menanggung berat yang biasa di tanggung oleh laki-laki.

Sumber :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Kesetaraan_gender
  2. https://www.kompasiana.com/a.ditafebriyanti/wanita-dan-kesetaraan-gender_55007ad2a333115263511b16
  3. http://blog.unnes.ac.id/aminahyusuf/2017/12/05/pengertian-gender-bentuk-bentuk-gender-dan-contoh-kesetaraan-gender/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *