Power Up Membuat Saya Melek Anggaran

Narasumber : Insapriani (Ketua Kaukus Desa Pengadang)

Awalnya saya memang sudah terlibat di kegiatan kader posyandu dan beberapa program lainnya. Saya memang sudah ada dasar dalam hal berkegiatan. Namun, kegiatan-kegiatan sebelumnya itu seolah-olah “lepas” dari pemerintah desa. Kami jaran g sekali berhubungan dengan pemdes.

Nah, semenjak adanya Power Up ini, kami selalu dilibatkan di desa. Saya serta teman-teman kaukus dipercaya untuk bertanggungjawab atas kegiatan-kegiatan di desa, karena melihat kami sudah mampu untuk itu, dilihat dari bagaimana kami mampu aktif bersuara dan mengkoordinir kegiatan.

Para kader termasuk saya yang juga adalah anggota kaukus sekarang aktif bertanya terkait apa saja yang dibutuhkan masyarakat maupun spesifik ibu hamil. Kalau dulunya, palingan kami berinisiatif seperti itu hanya jika ada dana yang akan turun saja atau saat posyandu saja.

Selain itu juga, pelatihan-pelatihan terkait perencanaan penganggaran yang diberikan Power Up membuat saya merasa tidak mudah mengiyakan jika ada alasan – alasan seperti tidak adanya anggaran atau semacamnya. Perubahan ini yang saya rasakan paling bermakna bagi diri saya. Tadi saja, Pak Kades menelepon saya menanyakan tentang apakah sudah menganggarkan sarana prasarana Posyandu dan gaji kader Posyandu dalam RAPBDes untuk 2020. Sekarang Beliau sangat mempercayakan hal-hal terkait Posyandu kepada saya karena saya punya data-datanya.

Perubahan ini terjadi sejak Power Up memberikan pelatihan penganggaran bagi kaukus perempuan. Berhubung saya sebagai ketua kaukusnya, jadi saya mengikuti seluruh kegiatan ini yang memang berlangsung secara bertahap,  dengan melibatkan 50 orang di setiap tahapnya. Kita juga dilatih agar bisa menjadi fasilitatornya, hingga akhirnya saya paham terkait penganggaran. Yang mana yang bisa dianggarkan di ADD, yang mana yang dianggarkan Dana Desa. Jadi saya sudah tidak bisa dibohongi lagi. Kalau dulu kan, biasa kita dengar, ‘Dananya sudah habis’ atau ‘yang ini sudah tidak bisa dianggarkan lagi’. Dan kalau sekarang, saya lebih sering terlibat dalam kegiatan yang akan dilaksanakan pemerintah desa, contohnya saat pengajuan kegiatan kelas ibu hamil, PMT bumil KEK dan juga PMT bayi balita BGM. Saya terlibat penuh dalam kegiatan penganggaran tersebut, bahkan membantu operator desa untuk menghitung aggaran setiap kegiatan tersebut lengkap beserta pajak-pajaknya.

Tentu saja penganggaran ini tidak bisa diusulkan dan direalisasikan tanpa data. Kaukus memiliki data seperti data jumlah ibu hamil KEK, bayi balita stunting, dan juga bayi balita  BGM di desa kami. Karena di Kaukus, kami ada khusus bidang kesehatan yang salah satu tugasnya adalah berkoordinasi ke Puskesmas untuk meminta data-data yang bisa menjadi dasar untuk penyediaan layanan di desa. Ditambah lagi dengan adanya SK Kaukus Perempuan yang membuat kaukus di desa kami lebih leluasa bergerak. Kedepannya, kami berencana untuk mendapatkan anggaran untuk rapat rutin kaukus dan menghidupkan kelas remaja yang selama ini vakum.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *