Indah Dirangkul, Indah Didengar

Narasumber: Indah Dian Sari (Anggota Kaukus, Ketua Remaji Dusun)

Saya sebenarnya besar dan lama di Bali dan baru kembali ke Lombok setelah lulus SMA. Kini saya sedang menempuh kuliah semester 6.  Pada awal saya ke Lombok, saya tentu butuh penyesuaian, yang dari awalnya tinggal di daerah perkotaan dan sekarang di pedesaan dengan lingkungan berbeda. Saya melihat masyarakat di desa ini cenderung seperti sendiri-sendiri,  semacam ada batasan antara masyarakat dengan orang-orang yang dianggap menjadi tetua, tokoh, atau pemegang kuasa atas masyarakatnya, misal pemeritah desa. Meskipun secara umum, masyarakat Desa Menemeng memang masih menjunjung keramah-tamahan dan kegotong-royongan dalam berkegiatan. Tapi, saya melihat masyarakat seperti hanya mengikuti perintah dan arahan dari yang berkuasa saja. Seperti didoktrin dan tak bisa memutuskan sesuatu berdasarkan pilihannya sendiri.  Hal itu menjadi gejolak yang terpendam di benak saya.

Pertengahan Juni 2018, saya diajak mengikuti pertemuan dan bergabung dengan kaukus perempuan di desa.  Saya mulai dikenalkan dengan banyak ilmu baru di kaukus, terutama soal gender, TIK, kesehatan, dan juga motivasi untuk berpartisipasi. Oleh karena itulah, saya selalu menyempatkan diri hadir di setiap kesempatan, meski harus berada di tengah para ibu-ibu yang usianya terpaut cukup jauh dengan saya. Tetapi, suasana di kaukus sangat saling menghargai dan mendukung tanpa pandang usia. Saya merasa kaukus bisa menjadi wadah saya dan membuka peluang saya untuk mengubah desa saya.

Tapi semua perubahan kan harus dimulai dari diri sendiri. Saya mulai menerapkan apa yang saya pelajari di kaukus itu dari lingkungan terdekat saya dulu, yakni di keluarga. Selama ini sebagai seorang anak, saya tidak berani bersuara di keluarga saya. Ketika tidak sependapat, biasanya akan dianggap melawan. Apalagi sosok ayah di keluarga saya adalah sosok yang sangat otoriter.

Disinilah saya merasakan perubahan saya yang paling bermakna, dimana pola pikir saya mulai berubah. Di Power Up, kita diberitahu bahwa semua orang punya hak untuk berpendapat. Pikiran saya pun terbuka, meskipun saya adalah seorang anak, apalagi anak perempuan, saya tetap punya hak bersuara untuk diri saya sendiri. Saya mulai mengubah pola komunikasi dengan ayah saya. Jika cara yang satu tidak berhasil, saya tidak langsung menyerah, tapi mencoba cara lainnya yang tidak serta-merta mendapatkan penolakan, tapi paling tidak sudah melalui proses komunikasi. Sekarang, perlahan ayah mulai mendengarkan pendapat saya mengenai apa yang menurut saya baik.

Sebagai ketua remaji, saya berusaha menularkan pengetahuan yang saya dapat dalam berkegiatan di desa pada teman-teman remaji di dusun, baik melalui Whatsapp maupun secara langsung dalam kegiatan remaji kami. Apa yang saya dapat di kaukus itu juga turut mendukung peran saya sebagai ketua remaji di dusun, seperti mendorong remaji untuk berani merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan, hingga bersama-sama mempertanggungjawabkannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *